UPCOMING EVENTS
CONTACT
# SURABAYA
FERRY : 031 71071079 | 031 8419106 | 08563289076 (CPPP management & studio)
# JAKARTA
PUPUT Netral : 021 8302209 | 081 894 1997
ternyata mereka juga PNS
20 Desember 2008 | 22:58:17
metropolis jawa pos said...
Gaji untuk Keluarga, Honor untuk Bikin Studio

Bernula dari hobi, Fery Isyono Purwawirawan dan Imam Utomo Haryogi, kini mantap di jalur rekaman. Kelompok band-nya juga laris tanggapan. Padahal, dua orang itu sehari-hari mempunyai kesibukan yang menyita waktu sebagai pegawai negeri sipil.

JANESTI PRIYANDINI

Sinar bulan purnama

Terangi indahnya malam

Jadikan kenangan tak terlupakan...

Halus lembut kulitmu

Belaian kasih sayangmu

Cintaku selalu hanya untukmu...

Lagu berjudul Bulan Purnama berirama pop punk itu dinyanyikan Iman Utomo Haryogi, 35. Sambil memainkan gitar, Ogie -panggilannya-- terlihat sangat nge-punk dengan kemeja hitam berdasi dipadu celana pendek warna senada. Sedangkan Fery Isyono Purwawirawan, 34, berdiri di sampingnya. Penampilannya juga tidak kalah asyik. Bedanya, Fery mengenakan atasan kaos hitam. Dia memainkan bas.

Minggu (23/11) siang itu, Ogie dan Fery bersama kelompok bandnya, Dindapobia, menjadi bintang tamu kompetisi futsal SMA Se-Surabaya di GOR Hayam Wuruk, Kompleks Makodam V Brawijaya. Mereka tampil memukau dengan lima lagu karya sendiri.

Ya, kedua orang itu adalah personel Dindapobia Band, kelompok musik yang beraliran pop punk di metropolis. Selain Ogie dan Fery, ada juga Agus Wahyudianto (gitar), Cagar Edelwaysa Admet (drum), dan Mentaria Octopanam Niomasi'o Lase (backing vocal). Grup band ini berdiri sejak 1996 dan tetap eksis sampai kini.

Siang itu, Ogie tampak paling energik, meski dia tidak bisa bergerak jauh dari mik. Badannya terus bergerak dan berjingkrak-jingkrak. Di panggung, Ogie dan Fery memang seperti superstar. Keduanya tampak profesional sebagai band anak muda. Itu sebabnya, penampilan mereka di panggung pun menyesuaikan dengan jiwa anak muda.

Dandanan itu ''bertolak belakang'' dengan seragam keduanya sehari-hari. Ya, sehari-hari keduanya adalah PNS (pegawai negeri sipil). Fery bekerja di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya sebagai Juru Sita Pengganti. Sedangkan Ogie tercatat sebagai staf di Biro Kesra Pemprov Jatim.

Saat bergabung dengan Dindapobia, Fery sudah tercatat sebagai PNS. Dia diterima di PN pada 1994. ''Selepas SMA saya langsung daftar PNS di PN dan diterima,'' ujarnya.

Begitu lulus SMA, Ferry memang tidak berniat langsung kuliah. Dia mencari pekerjaan lebih dulu, baru melanjutkan kuliah. Makanya, setelah bekerja di PN, Fery lalu kuliah di Fakultas Hukum Untag Surabaya, dan lulus pada 2000. ''Dengan cara begini kan saya jadi tahu, ilmu apa yang harus saya perdalam,'' ungkap bapak satu anak ini.

Lain lagi dengan cerita Ogie. Awalnya ayah dari Ayu Ghia (7) dan Anugerah Ghia (4) ini justru tidak berminat menjadi PNS. Lulus dari Fakultas Hukum Ubaya tahun 1996, bukannya mencari kerja dia malah sibuk main band. Hingga suatu ketika, ayahya menyuruh Ogie ikut tes pegawai negeri di pemprov. ''Tadinya saya nggak mau, tapi gimana lagi,'' ungkapnya.

Meski awalnya ogah-ogahan, ternyata Ogie malah diterima menjadi PNS di pemprov. Mau tidak mau Ogie harus menjalani pekerjaannya sebagai abdi pemerintah. Tapi, dia sempat kaget karena harus menjalani hari-harinya sebagai PNS dengan jam kerja teratur di belakang meja. Bahkan dirinya sering dikomplain pegawai lain karena surat yang dia bikin salah. ''Makanya kalau ada tugas lapangan saya senang bukan main,'' ucapnya lalu tersenyum.

Dengan diterimanya Ogie sebagai PNS, berarti semakin sibuk pula personel Dindapobia dengan rutinitas pekerjaannya masing-masing. Apalagi satu personelnya yang lain, Agus Wahyudianto, juga bekerja di perusahaan swasta.

Meski demikian, keinginan grup itu untuk eksis di bidang musik tak pernah pupus. Mereka tetap kompak menjaga satu sama lain untuk mewujudkan cita-citanya. ''Kerja sebagai PNS tidak menjadi alasan untuk berhenti ngeband. PNS juga rockstar!,'' tegas Ogie mantap.

Menyikapi kondisi tersebut, mau tidak mau mereka harus menyesuaikan jadwal latihan dengan jam kerja kantor masing-masing. Mereka berkomitmen untuk tidak sampai keduanya bertabrakan. Senin hingga Jumat merupakan hari-hari kantornya yang tidak bisa diganggu gugat. Sedangkan Sabtu dan Minggu merupakan jadwal nge-band.

Meski dengan jadwal yang terbatas, pada tahun 2000 mereka sukses membuat album indie beraliran pop alternatif berjudul Cloning Shit. Lalu pada 2004 mereka kembali melempar album ke pasar berjudul Dindapobia. Menurut cerita Fery, di album kedua, mereka sudah bergabung dengan Indosemar Sakti, major label yang juga menaungi band Netral. Dari situ mereka mulai dikenal. Bahkan mereka sering diminta manggung bareng saat Netral konser di daerah-daerah. Pernah juga mereka diminta mengisi pentas musik Soundrenaline di Bali.

Jika sudah begitu, bagaimana dengan pekerjaan kantor? ''Tak masalah. Tetap jalan,'' tegas Fery.

Kuncinya, mereka tidak mau menerima job selain hari Sabtu dan Minggu. Dan, kebetulan hingga saat ini, tawaran selalu datang saat weekend itu.

''Pimpinan saya memberi support kok, dan alhamdulillah profesi kami sebagai pemusik tidak mengganggu pekerjaan di kantor,'' tambah Ogie.

Memang, tidak bisa dimungkiri, penghasilan dari ngeband lebih besar dari gaji tetap yang biasa mereka peroleh di kantor. ''Tapi, kami menyadari, penghasilan dari band tidak bisa menjadi gantungan hidup keluarga,'' tambah Fery.

Makanya, setiap kali manggung, sedikit demi sedikit honor yang diperoleh mereka kumpulkan. Tujuannya untuk membuat studio rekaman sendiri. Maka, setelah album kedua, mereka pun mulai berpikir banyak untuk memiliki studio recording sendiri. Dalam waktu 4 tahun mereka menyiapkan studio rekaman itu. Dan, tahun ini, cita-cita itu berhasil mereka wujudkan. Mereka kini memiliki studio sendiri bernama 3Balltech Studio yang terletak di Tenggilis Mejoyo Blok B No 27, rumah Ogie.

Tak hanya itu, mereka juga membentuk sebuah manajemen untuk menampung bakat-bakat anak Surabaya di bidang musik bernama CP3 Management. Fery ditunjuk sebagai pimpinannya.

Setelah kondisi internal band tertata, mereka pun kembali berkarya. Semua proses rekaman dan pembuatan video klip dilakukan di Surabaya. ''Mastering-nya saja yang di Jakarta,'' tambah Ogie. Dengan begitu mereka bisa mengatur waktu sefleksibel mungkin.

Saat ini CD album terbaru mereka sudah dicetak 1.000 keping di bawah naungan Kancut Records, perusahaan rekaman milik Netral. Keping-keping CD tersebut didistribusikan antara lain di seluruh kota di Jatim, Bandung, dan Jakarta. Proses pendistribusian tersebut juga dimonitor oleh mereka dari Surabaya. ''Nggak perlu harus ke Jakarta kan untuk berkarya,'' tandas Ogie. (*/ari)
1 Comments to "ternyata mereka juga PNS"
  • Minggu, 28 Februari 2009 | 12:35:34
    emmmmm emang tuh PNS jangan lupa ma kerjoannya yaaa.
Write Comments 
Nama (harus diisi)
Email (tidak akan ditampilkan) (harus diisi)
Website
Masukan Kode >
Partners:
   
© Copyright 2008 Dindapobia.